Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Dampak Bencana Hidrometeorologi, Ekonomi Aceh 2025 Diprakirakan Tumbuh Melambat

Rabu, 21 Januari 2026 | 16.23 WIB Last Updated 2026-01-21T15:24:11Z
BANDA ACEH – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Aceh melaporkan bahwa bencana hidrometeorologi yang melanda 18 kabupaten/kota di Aceh telah memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Bencana yang merusak lahan pertanian, jalur distribusi, hingga fasilitas umum ini membuat ekonomi Aceh sepanjang tahun 2025 diprakirakan hanya tumbuh pada kisaran 3,50% hingga 4,40% (yoy).  

​Kepala KPwBI Provinsi Aceh, Agus Chusaini, menyampaikan bahwa pada Triwulan III 2025, pertumbuhan ekonomi Aceh tercatat sebesar 4,46% (yoy). Angka ini berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,04% dan rata-rata pertumbuhan di wilayah Sumatera sebesar 4,90%.  

​Sektor Pertanian dan Perdagangan Tertekan. ​Bencana ini berdampak langsung pada sektor-sektor utama di Aceh. Kerusakan dilaporkan mencakup 56.652 hektare sawah, 148.339 rumah, serta kerusakan infrastruktur yang masif seperti terputusnya 468 jembatan dan 1.593 titik jalan. Hal ini menyebabkan penurunan kinerja pada sektor pertanian, perdagangan, dan transportasi. Di sisi pengeluaran, penurunan bersumber dari melemahnya konsumsi rumah tangga dan ekspor.  

​Inflasi Melonjak Akibat Jalur Distribusi Terputus. ​Kondisi bencana juga memicu lonjakan inflasi yang cukup tajam. Hingga Desember 2025, inflasi Provinsi Aceh melonjak ke angka 6,71% (yoy). Secara bulanan, inflasi pada Desember 2025 tercatat sebesar 3,60% (mtm), jauh melampaui rata-rata historis Desember selama tiga tahun terakhir yang hanya 0,53% (mtm).  

​"Peningkatan inflasi ini terutama dipicu oleh terputusnya jalur distribusi yang mengganggu pasokan komoditas strategis," jelas Agus Chusaini dalam laporannya. 

Komoditas utama penyumbang inflasi antara lain beras, emas perhiasan, cabai merah, dan beberapa jenis ikan. 
 
​Upaya Pemulihan dan Proyeksi 2026. ​Guna menekan dampak bencana, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) telah melakukan berbagai langkah strategis, mulai dari penyelenggaraan pasar murah hingga Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP). 

Total sebanyak 36 ton telur ayam dan 40 ton minyak goreng telah didistribusikan melalui skema FDP selama Desember 2025 untuk menjaga stabilitas harga.  

​Memasuki tahun 2026, Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Aceh akan mulai pulih dan tumbuh pada kisaran 3,60% hingga 4,50% (yoy). 

Langkah strategis yang akan diambil meliputi percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, pemberian capacity building bagi petani untuk meningkatkan produktivitas, serta penguatan Kerjasama Antar Daerah (KAD) guna memastikan ketersediaan pasokan pangan.  

​Di sisi sistem pembayaran, Bank Indonesia juga memastikan ketersediaan uang Rupiah di daerah terdampak serta mendorong perbankan untuk memberikan relaksasi pembayaran bagi masyarakat yang terdampak bencana.  

News

Kabar Aceh

×
Berita Terbaru Update