BANDA ACEH – Sebagai langkah nyata dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan koordinasi menghadapi potensi bencana, Paguyuban Pasundan Aceh resmi membentuk Komite Penanggulangan Bencana periode 2026-2027. Pembentukan ini disahkan melalui Surat Keputusan Ketua Paguyuban Pasundan Aceh Nomor 001/PA/I/2026 yang ditandatangani pada 5 Januari 2026.
Ketua Paguyuban Pasundan Aceh, Ade Herdiyat, S.Sn., M.Sn., menunjuk Dini Syahriza Fahlevi, S.T., M.T. sebagai Ketua Komite, didampingi oleh Bambang Muhammad Ridwan sebagai Wakil Ketua. Komite ini bertugas mulai dari menyusun rencana kesiapsiagaan, melaksanakan koordinasi saat bencana, hingga melakukan edukasi kebencanaan kepada masyarakat.
Fokus Bantuan Jangka Panjang
Dalam rapat koordinasi yang digelar di Sekretariat Paguyuban Pasundan Aceh pada Minggu, 17 Januari 2026, komite menyepakati bahwa penyaluran bantuan tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga menyasar aspek rehabilitasi jangka panjang.
"Tujuan komite ini adalah penanganan jangka panjang, termasuk rehabilitasi fasilitas umum seperti rumah, masjid, dan sekolah di daerah terdampak bencana di Aceh," demikian poin utama dalam resume rapat tersebut ujar Ketua.
Salah satu agenda mendesak adalah mempercepat penyaluran bantuan dari Paguyuban Pasundan Pusat senilai Rp100 juta yang direncanakan cair dalam waktu dekat. Ketua Paguyuban menginstruksikan agar bantuan tersebut diwujudkan dalam bentuk barang-barang yang bermanfaat luas.
Bantuan Berbasis "Sedekah Jariyah" dan Kemanusiaan Berdasarkan hasil diskusi pengurus, komite menyepakati beberapa kriteria bantuan yang akan disalurkan, antara lain:
- Barang Bernilai Jariyah: Sound system masjid/dayah, karpet, Al-Qur’an, sejadah, dan mukena.
- Pendidikan: Paket alat tulis dan tas sekolah (school kit).
- Kebutuhan Rumah Tangga: Alat masak dan peralatan rumah tangga lainnya bagi warga yang kehilangan harta benda.
- Dukungan Psikososial: Program trauma healing, khususnya bagi anak-anak.
Meski merupakan organisasi masyarakat asal Jawa Barat, bantuan ini ditegaskan bersifat inklusif. "Bantuan tidak hanya untuk masyarakat Pasundan, tetapi untuk masyarakat umum yang terdampak bencana di Aceh," tegas salah satu pengurus, Kang Galih, dalam rapat tersebut.
Koordinasi Strategis
Selain mengelola bantuan internal, Komite Penanggulangan Bencana juga akan berkoordinasi intensif dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Paguyuban Pasundan Pusat. Hal ini dilakukan untuk menyinkronkan rencana pembangunan kembali fasilitas publik seperti rumah dan tempat ibadah di Aceh.
Sebagai identitas operasional di lapangan, para pengurus komite nantinya akan dilengkapi dengan atribut berupa rompi khusus yang merupakan sumbangan dari Ketua Paguyuban Pasundan Aceh.
Ketua Paguyuban Pasundan Aceh menyampaikan pentingnya melakukan audiensi langsung dengan tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh luas, salah satunya adalah Prof. Didi. Beliau dinilai sebagai sosok "orang yang dituakan" yang memiliki kedekatan dengan berbagai elemen pemerintahan, baik di tingkat Bupati maupun Gubernur.
"Kita berencana menghadap beliau untuk meminta petunjuk dan arahan. Pengaruh dan suara beliau masih sangat didengar, sehingga ini menjadi langkah penting bagi kemajuan paguyuban ke depan," ujarnya.
Pertemuan tersebut juga menekankan bahwa program kerja paguyuban tidak hanya bersifat sementara. Dengan estimasi pengerjaan program yang bisa memakan waktu 2 hingga 5 tahun, Paguyuban Pasundan Aceh berkomitmen untuk hadir secara berkelanjutan dalam membantu masyarakat, khususnya dalam menghadapi berbagai tantangan atau bencana.
Selain agenda birokrasi, paguyuban juga mulai menerima berbagai titipan bantuan dari para donatur yang akan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Beberapa bantuan yang telah siap disalurkan antara lain Mushaf Al-Qur'an, Pakaian baru, Perlengkapan sekolah untuk anak-anak.
"Kehadiran komite ini diharapkan bisa menjadi lembaga yang menyalurkan bantuan secara langsung dan tepat sasaran kepada pihak yang benar-benar memerlukan. Kami mengedepankan transparansi dan pertanggungjawaban dalam setiap penyerahan bantuan, Melalui semangat "Nyunda, Nyantri, Nyakola, Nyantika", Paguyuban Pasundan Aceh berharap keberadaan mereka dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi seluruh warga, baik warga keturunan Sunda yang menetap di Aceh maupun masyarakat Aceh secara luas." Tutup Ketua Ade Herdiyat.