Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

High Level Meeting TPID se-Aceh, Jelang Ramadhan dan Idul Fitri Stok Pangan Tersedia

Rabu, 09 Maret 2022 | 14.06 WIB Last Updated 2022-03-09T07:06:10Z
Banda Aceh - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh telah dilaksanakan High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Aceh di Pendopo Gubernur. Selasa, 8 Maret 2022.

Pertemuan ini dihadiri oleh Gubernur Aceh, Ir. H. Nova Iriansyah, M.T. yang sekaligus membuka kegiatan HLM TPID. Selain itu, hadir pula Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh Achris Sarwani, Dirreskrimsus Polda Aceh Kombes Pol. Sony Sonjaya, Asisten II Sekda Aceh. Seluruh tim TPID dan Satgas Pangan di Provinsi Aceh juga hadir secara luring, sementara TPID dan Satgas Pangan kabupaten/kota menghadiri acara secara daring. 

High Level Meeting kali ini diselenggarakan dalam rangka memperkuat sinergi antara tim TPID dan Satgas Pangan dalam menjalankan tugasnya. HLM juga dilaksanakan untuk memperkuat strategi, koordinasi dan sinergi seluruh stakeholders dalam menjaga inflasi di Provinsi Aceh supaya tetap terkendali dan rendah. 

Dalam sambutannya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh mengatakan, “Ekonomi Aceh terus melanjutkan pertumbuhan yang positif dengan laju inflasi yang menurun”, kata Achris Sarwani.

Disampaikan bahwa pada Triwulan IV 2021, Aceh mampu tumbuh sebesar 7,39% (year on year) didorong oleh konsumsi swasta dan pemerintah. Ke depan, Aceh diproyeksikan melanjutkan pertumbuhan yang lebih tinggi pada 2022, didukung oleh peningkatan aktivitas masyarakat seiring turunnya penyebaran Covid-19 serta perbaikan cuaca dan iklim. 

Kepala BI melanjutkan, kinerja TPID patut di apresiasi melihat capaian inflasi tahun 2021 yang lebih rendah dari rata-rata tiga tahun terakhir, yaitu sebesar 2,24% (yoy). Meskipun TPID Provinsi Aceh dan kabupaten/kota telah menjalankan banyak program kerja yang baik dan sejalan dengan pengendalian inflasi, aspek pelaporan masih perlu menjadi perhatian bersama. Pada akhir sambutannya, Kepala BI berharap TPID dan Satgas Pangan dapat bekerja sama lebih erat terutama pada pemantauan harga dan kegiatan sidak pasar. 

Selanjutnya, Ketua Satgas Pangan, Kombes Pol. Sony Sonjaya menuturkan, “Provinsi Aceh berada di posisi 11 tingkat nasional untuk vaksinasi, dengan dosis pertama 92% dan dosis kedua 52%.” Hal ini menunjukkan bahwa akan terjadi peningkatan aktivitas masyarakat seiring dengan meningkatnya tingkat vaksinasi. Salah satu program prioritas Polri adalah pemulihan ekonomi nasional, melalui program vaksinasi dan pemantauan harga melalui Satgas Pangan. 

Di samping itu, diperlikan langkah serentak, koordinatif, dan integratif bersama para stakeholders untuk pengendalian harga pangan. Apabila terdapat kartel, mafia pangan ataupun penimbunan, Satgas Pangan akan melakukan penelitian dan proses hukum sesuai perundang-undangan yang berlaku. 

Gubernur Aceh menyampaikan arahan kepada anggota TPID seluruh Aceh dan sekaligus membuka HLM TPID. Dalam arahannya, Gubernur menyampaikan untuk memperkuat kualitas koordinasi antar instansi dalam menjalankan program kerja TPID tahun 2022. Melakukan peningkatan kerja sama antar daerah, penguatan basis data terintegrasi, operasi pasar dan sidak pasar, pemantauan produksi komoditas utama, pengembangan klaster pangan, serta penguatan koordinasi TPID dengan Satgas Pangan untuk mencegah praktik penimbunan. 

Gubernur Aceh juga berpesan kepada tim TPID agar dapat berkomitmen dan proaktif dalam pengendalian inflasi. Setelah sambutan, Gubernur Aceh memberikan penghargaan “Satgas Pangan Terbaik” kepada Satgas Pangan Banda Aceh, Aceh Besar, dan Pidie. 

Pada kegiatan tersebut juga dilaksanakan diseminasi kajian neraca pangan oleh Bank Indonesia. Mohammad Arif Yunus sebagai narasumber menuturkan bahwa komoditas makanan pokok merupakan penyumbang inflasi terbesar, sehingga penting untuk diteliti. 

Dari 11 komoditas strategis yang dikaji, terdapat 3 komoditas yang mengalami defisit di Aceh, yaitu Bawang Merah, Ayam Ras Pedaging, dan Telur Ayam Ras. Defisit diakibatkan oleh kurang berminatnya petani dalam membudidayakan komoditas tersebut, sehingga tidak dapat bersaing dengan wilayah lain. 

Kajian neraca pangan memberikan rekomendasi untuk membuat pola kemitraan dan kelembagaan pada komoditas tersebut dan mendorong pembiayaan budidaya komoditas oleh perorangan, investor maupun dari perbankan. 

Lebih lanjut, kajian tersebut juga memberikan rekomendasi untuk melakukan sosialisasi ataupun pelatihan, maupun pendampingan kepada pelaku budidaya komoditas unggulan, pengembangan klaster pangan, serta peningkatan peran Bulog sebagai buffer stock komoditas penyumbang inflasi di Provinsi Aceh. 

Selanjutnya, dilakukan diskusi menyambut bulan Ramadhan 1443 H yang dipimpin oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Achris Sarwani, Kepala Biro Ekonomi Amirullah dan Kepala Dinas Pangan Cut Yusminar. 

Diskusi dibuka dengan hasil pemantauan harga-harga komoditas terkini untuk mengetahui komoditas yang memerlukan perhatian lebih. Didapati bahwa ada 3 komoditas yang mengalami kenaikan harga pada awal tahun 2022. Cabai merah harganya mencapai Rp54,350/kg, bawang merah Rp37,850/kg, daging sapi Rp140,650/kg. Sedangkan, komoditas minyak goreng telah menunjukkan penurunan menjadi Rp15,850/kg pada awal bulan Maret 2022. 

Kesimpulan dari diskusi HLM TPID yaitu pertama, produksi maupun pasokan komoditas bahan makanan di Aceh masih dalam kondisi tersedia. Kedua, pentingnya pemantauan harga dan stok komoditas bahan makanan di Aceh dalam rangka persiapan Ramadhan 1443 H dan Idul Fitri. 

Ketiga, akan dilaksanakan pasar murah pada akhir Maret 2022 dengan 5 komoditas strategis yaitu Beras, Gula, Minyak Goreng, Tepung, dan Telur yang akan dilaksanakan di 94 titik se-Provinsi Aceh.  Keempat, segera disampaikan surat rekomendasi pengendalian inflasi jangka panjang kepada Gubernur Aceh, untuk selanjutnya menjadi pedoman bagi TPID masing-masing Kabupaten/Kota.(Red)

×
Berita Terbaru Update