BANDA ACEH – Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar, ST, mengingatkan bahwa kasus HIV di Banda Aceh mengalami peningkatan yang sangat tajam. Dalam kurun waktu 18 tahun, jumlah kasus tercatat meningkat hingga 94 kali lipat, dari 10 kasus pada 2008 menjadi 942 kasus pada 2026.
Karena itu, Farid meminta kader remaja Posyandu menjadi garda terdepan dalam memberikan edukasi kepada teman sebaya maupun masyarakat secara umum. Para kader dinilai perlu memiliki pengetahuan yang memadai untuk mengenali gejala, memahami upaya pencegahan, sekaligus membantu mengubah stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
“Sebagai anak muda, adik-adik harus memiliki peran dalam menjaga Kota Banda Aceh. Sebab, yang paling banyak terdampak adalah generasi mereka sendiri, yaitu generasi muda,” ujar Farid.
Hal tersebut disampaikan Farid saat membuka penyuluhan, sosialisasi, dan edukasi kesehatan bagi remaja yang digelar Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh melalui kegiatan bertema “Hidup Sehat, Remaja Bebas HIV/AIDS” di Paopia Coffee, Banda Aceh, Selasa (29/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan pemahaman kepada remaja mengenai pentingnya menjaga kesehatan serta mengenali berbagai risiko yang dapat berdampak terhadap kesehatan dan masa depan mereka.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 29–30 September 2026, itu diikuti 50 peserta yang merupakan remaja putri dari wilayah kerja Puskesmas Kuta Alam dan Puskesmas Lampulo.
Sebagai Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh yang membidangi kesejahteraan rakyat, kesehatan, dan keistimewaan, Farid menyambut baik sekaligus memberikan apresiasi kepada Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh yang telah memfasilitasi pelaksanaan kegiatan tersebut.
Farid mengungkapkan, data kasus HIV/AIDS di Indonesia menunjukkan sekitar 25 persen kasus terjadi pada kelompok remaja usia 15–24 tahun.
Sementara itu, di Banda Aceh, kasus HIV/AIDS juga perlu mendapatkan perhatian serius karena kasus terbanyak berada pada kelompok usia produktif, yakni 15–39 tahun.
“Coba kita lihat data dari Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh. Pada 2008 hanya terdapat 10 kasus, terdiri dari sembilan kasus HIV dan satu kasus AIDS. Sepuluh tahun kemudian, pada 2018, jumlahnya meningkat menjadi 36 kasus, dengan 31 kasus HIV dan lima kasus AIDS,” kata Farid.
Menurutnya, peningkatan tersebut terus terjadi. Pada 2024 tercatat 147 kasus, terdiri dari 104 kasus HIV dan 43 kasus AIDS. Angka tersebut menjadi salah satu jumlah kasus HIV/AIDS tertinggi di Banda Aceh sejak 2008.
Sementara hingga Agustus 2026, tercatat 68 kasus, terdiri dari 49 kasus HIV dan 19 kasus AIDS.
Secara kumulatif, sejak 2008 hingga 2026 tercatat sebanyak 942 kasus HIV/AIDS di Banda Aceh. Angka tersebut terdiri dari 771 kasus HIV dan 171 kasus AIDS.
“Setiap tahun angkanya terus menunjukkan peningkatan. Jika dibandingkan dengan 2008 yang hanya terdapat 10 kasus, hingga 2026 jumlah kumulatif sudah mencapai 942 kasus. Artinya, terjadi peningkatan hingga 94 kali lipat,” ujar Farid.
Farid mengatakan, penularan HIV bukan hanya persoalan yang jauh dari kehidupan remaja, tetapi juga dapat berkaitan dengan sejumlah persoalan yang berada di sekitar mereka.
“Penularan bukan hanya karena hal-hal yang jauh dari kita, tetapi juga dari hal-hal yang dekat dengan remaja saat ini, seperti pergaulan bebas, kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, penyalahgunaan NAPZA suntik, dan paparan konten pornografi di media sosial,” ujarnya.
Menurut Farid, sebagai kota yang menerapkan Syariat Islam, Banda Aceh harus menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan HIV/AIDS. Nilai-nilai agama, kata dia, dapat menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan diri remaja.
“Islam sudah mengajarkan pencegahan terbaik, yaitu menjaga kehormatan diri, menjaga pergaulan, dan menguatkan iman,” katanya.
Farid menilai tema kegiatan tersebut sangat relevan karena mencakup tiga hal penting, yakni “Kenali Risikonya, Cegah Penularannya, dan Hilangkan Stigmanya.”
Ia kemudian mengajak para remaja untuk memahami tiga hal tersebut. Pertama, kenali risiko. Para remaja perlu mengetahui perilaku yang berisiko dan yang tidak berisiko.
Menurut Farid, pengetahuan merupakan benteng pertama dalam mencegah penularan HIV.
Kedua, cegah penularan. Upaya pencegahan tidak dilakukan dengan menakut-nakuti remaja, melainkan melalui edukasi, penguatan nilai agama, dan penerapan pola hidup sehat.
Ketiga, hilangkan stigma. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA), kata Farid, bukan untuk dijauhi, melainkan harus dirangkul dan didukung agar mendapatkan pengobatan.
“Jangan sampai mereka tidak berobat karena malu dan takut dikucilkan. Islam mengajarkan kita untuk saling menyayangi,” ujarnya.
Kepada para kader remaja Posyandu, Farid mengatakan kehadiran mereka menunjukkan komitmen dan kepedulian terhadap kesehatan diri, teman sebaya, serta masyarakat di gampong masing-masing.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar pelatihan, tetapi merupakan investasi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia di Banda Aceh.
“Dengan pengetahuan yang tepat, remaja akan menjadi garda terdepan dalam menyebarkan informasi yang benar, meluruskan stigma, dan mengajak masyarakat bersama-sama mencegah penularan HIV/AIDS,” katanya.
Farid juga mendorong para peserta tidak berhenti sebagai peserta pelatihan, tetapi melanjutkan peran sebagai edukator sebaya setelah kembali ke gampong masing-masing.
“Setelah pelatihan ini, pulang ke gampong dan sampaikan kepada setidaknya 10 teman tentang bahaya serta cara pencegahan HIV/AIDS,” pesan Farid.
Selain itu, ia meminta para kader menjadi contoh sebagai Remaja Sehat Banda Aceh, dengan menjauhi rokok, vape, NAPZA, serta pergaulan bebas.
“Ketiga, bantu pemerintah gampong dan Posyandu untuk mendata dan mengedukasi masyarakat,” tambahnya.
Farid menegaskan DPRK Banda Aceh, khususnya Komisi IV, akan terus mendukung berbagai program yang berorientasi pada peningkatan kesehatan dan perlindungan generasi muda.
“Kami di DPRK, khususnya Komisi IV, akan terus mendukung program seperti ini. Ini adalah investasi jangka panjang untuk mewujudkan Banda Aceh hebat, remaja sehat, dan keluarga kuat,” ujarnya.
Pentingnya Kesehatan Jasmani dan Rohani
Sementara itu, Ustaz Febri Sugianto dari Thibbun Nabawi dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa kesehatan seseorang tidak hanya dapat dilihat dari penampilan fisik, tetapi juga dari kondisi jiwanya.
Menurutnya, kesehatan tidak sekadar berkaitan dengan jasmani, tetapi juga rohani. Islam, kata Febri, telah mengajarkan pentingnya kebersihan, bersiwak, pola hidup sehat, serta pola makan yang baik.
“Apalagi peserta hari ini dari kalangan remaja. Mereka harus memperhatikan tingkat stres, pola makan, dan olahraga,” ujar Febri.
Ia menambahkan, kesehatan jasmani dan rohani dapat dijaga melalui kebersihan, pola hidup yang sehat, olahraga, serta memperkuat ibadah kepada Allah SWT.
Dengan demikian, edukasi kesehatan bagi remaja diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan tentang HIV/AIDS, tetapi juga membentuk generasi muda yang mampu menjaga kesehatan fisik, mental, sosial, dan spiritual.
Adapun narasumber lainnya, drg Supriayadi R, M.Kes dari Dinas Kesehatan Banda Aceh menyampaikan materi “Perilaku Berisiko Remaja dan Seks Bebas, Narkoba dan HIV/AIDS”. Serta dr Cut Nonda Maracilu, Sp.OG , Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi dengan topik “Hidup Sehat bebas HIV/AIDS. (*)