Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Pemkab Aceh Besar Gelar Apel Siaga Bencana Kekeringan

Rabu, 05 Agustus 2026 | 15.03 WIB Last Updated 2026-08-05T15:39:21Z
- Bupati Minta Semua Pihak Tingkatkan Kewaspadaan
- 2.125 Hektar Lahan Sawah Terdampak

KOTA JANTHO – Bupati Aceh Besar H Muharram Idris bertindak selaku Pembina Apel Siaga Bencana Hidrometeorologi kering (kekeringan) di Lapangan Bungong Jeumpa Kota Jantho, Rabu (5/8/2026). 

Hadir dalam kesempatan itu, Wakil Bupati Aceh Besar Drs H Syukri, Forkopimda, pejabat Basarnas, TNI, Polri, BPBA, para Asisten Setdakab, Kepala OPD, para camat, dan seluruh stakeholder terkait. 

Dalam sambutannya, Syech Muharram mengatakan, Apel Siaga yang dilaksanakan tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan merupakan bentuk kesiapsiagaan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar bersama seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi kering yang saat ini mulai memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat.

Bupati menambahkan, Kabupaten Aceh Besar merupakan salah satu daerah yang memiliki sektor pertanian sebagai penopang utama perekonomian masyarakat. Oleh karena itu, dampak kekeringan tidak hanya mempengaruhi ketersediaan air, tetapi juga mengancam produktivitas pertanian, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan hasil pendataan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, ungkap Muharram, hingga saat ini dampak kekeringan teridentifikasi 19 kecamatan yang mencakup 182 desa/gampong, dengan luas lahan persawahan terdampak mencapai sekitar 2.125,69 hektar yang terdiri atas kategori kekeringan ringan, sedang, berat dan puso. 

Data tersebut menjadi peringatan, bahwa ancaman kekeringan bukan lagi sekadar prediksi, tetapi telah menjadi kondisi nyata yang memerlukan langkah cepat, tepat, dan terkoordinasi.

Berdasarkan informasi resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), jelas Bupati Aceh Besar, musim kemarau tahun 2026 diperkirakan berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal. 

BMKG juga memprediksi peluang berkembangnya fenomena El Niño pada pertengahan hingga akhir tahun 2026 yang berpotensi memperpanjang musim kemarau dan meningkatkan risiko kekeringan di berbagai wilayah Indonesia. 

“Sejalan dengan hal tersebut, BNPB juga terus mengingatkan Pemerintah Daerah agar meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan melalui langkah-langkah mitigasi, penguatan koordinasi lintas sektor, pengamanan ketersediaan air bersih, perlindungan sektor pertanian, serta kesiapan penanganan apabila terjadi kondisi darurat,” katanya.

Lebih lanjut, Bupati Muharram Idris mengemukakan, berdasarkan hasil pendataan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, dampak kekeringan telah dirasakan di berbagai wilayah dan memerlukan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada sektor pertanian dan ketersediaan air bersih, tetapi juga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan. 

Selain itu, saat ini juga terjadi 30 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Aceh Besar dengan luas lahan terdampak mencapai 21 hektar menunjukkan bahwa musim kemarau tidak hanya membawa ancaman kekeringan, tetapi juga meningkatkan risiko yang dapat merusak ekosistem, mengganggu aktivitas masyarakat, menurunkan kualitas udara, serta berpotensi menimbulkan kerugian sosial dan ekonomi.

Oleh karena itu, Bupati Aceh Besar mengajak seluruh perangkat daerah, TNI, Polri, pemerintah kecamatan dan gampong, dunia usaha, relawan, dan seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun, memperkuat patroli di wilayah rawan, serta segera melaporkan apabila ditemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.

Ia juga mengimbau kepada seluruh camat, keuchik, dan aparatur gampong agar terus melakukan pemantauan wilayah masing-masing, segera melaporkan apabila terjadi perkembangan kondisi kekeringan, serta mengedukasi masyarakat untuk menggunakan air secara bijaksana dan menjaga sumber-sumber air yang masih tersedia. 

“Keberhasilan penanggulangan bencana tidak hanya bergantung pada pemerintah semata, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif seluruh masyarakat. Semangat gotong royong, kepedulian, dan kebersamaan merupakan modal utama dalam menghadapi setiap ancaman bencana,” pungkas Muharram Idris.(**)


News

Kabar Aceh

×
Berita Terbaru Update