Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan Perkuat Stabilitas BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,25% Demi Hadapi Gejolak Perang Timur Tengah

Kamis, 21 Mei 2026 | 08.31 WIB Last Updated 2026-05-21T01:31:28Z
JAKARTA — Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) periode 19-20 Mei 2026 resmi mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25%.

​Tidak hanya BI-Rate, BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,25% dan suku bunga Lending Facility menjadi 6,00%. Langkah "pre-emptive" ini diambil sebagai benteng pertahanan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan mengendalikan inflasi dari dampak rambatan perang di Timur Tengah.

​"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1%," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resminya, Rabu (20/5/2026).

​Dampak Perang Timur Tengah ke Ekonomi Global
Ketegangan di Timur Tengah diakui BI telah memperburuk prospek ekonomi dunia. 

Penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dan mengganggu rantai pasok global. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi dunia 2026 diperkirakan melambat ke angka 3,0%, sementara inflasi global melonjak ke kisaran 4,3%.

​Kondisi ini memicu pelarian modal dari negara berkembang (Emerging Markets) ke aset aman (safe-haven) seperti obligasi AS. Imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun bahkan telah menyentuh 4,66%, yang membuat dolar AS perkasa dan menekan Rupiah hingga berada di posisi Rp17.700 per dolar AS pada 19 Mei 2026 (melemah 2,20% dibanding akhir April).

​Tetap Longgar untuk Sektor Riil (Pro-Growth)
Meski kebijakan moneter diperketat (pro-stability), BI memastikan kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap longgar (pro-growth) demi menyokong pertumbuhan ekonomi domestik yang saat ini tumbuh positif di angka 5,61% (yoy) pada triwulan I 2026.

​Untuk mendorong agar perbankan tidak mengerem penyaluran kredit, BI mengeluarkan sejumlah jurus pelonggaran:

Pelonggaran Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM): Memperluas cakupan surat berharga korporasi yang dihitung dalam RIM, berlaku efektif 1 Juli 2026.

​Insentif Likuiditas Tambahan: Memberikan tambahan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) hingga 0,5% bagi bank yang memenuhi rentang RIM, berlaku efektif 1 Agustus 2026.

​Digitalisasi QRIS: Menargetkan 47 juta merchant QRIS pada 2026 melalui program QRIS Jelajah Indonesia dan memperluas QRIS Antarnegara ke Tiongkok.

​BI optimistis, dengan ketahanan perbankan yang kokoh (CAR Maret 2026 di level 25,09% dan NPL bruto rendah 2,14%), ekonomi Indonesia tahun 2026 tetap akan tumbuh di kisaran 4,9–5,7%.(*)

News

Kabar Aceh

×
Berita Terbaru Update