BANDA ACEH - PT Pembangunan Aceh (PEMA) bersiap melakukan ekspor tahap kedua kopi arabika Gayo ke Amerika Serikat (AS) pada awal Mei 2026. Langkah ini dilakukan untuk menjaga reputasi dan keberlanjutan pangsa pasar komoditas unggulan Aceh di tingkat global.
Direktur Utama PT PEMA Mawardi Nur menyebut pengiriman lanjutan ini menunjukkan posisi perusahaan yang mulai diperhitungkan dalam industri kopi internasional. Sebelumnya, PEMA telah merealisasikan ekspor perdana sebanyak 19 ton kopi Gayo hasil kerja sama dengan Sumatera Noble Coffee KSO.
"Capaian ini merupakan bagian dari proses transformasi organisasi perusahaan. Keberlanjutan ekspor ini bukan semata soal peningkatan volume, tetapi lebih pada menjaga konsistensi kualitas, reputasi, dan akses pasar jangka panjang," kata Mawardi di Banda Aceh, Selasa (28/4).
Mawardi menambahkan, pihaknya akan terus berinovasi dan memperkuat fundamental bisnis agar komoditas lokal mampu bersaing secara berkelanjutan di luar negeri.
Sementara itu, Direktur Komersial PT PEMA Faisal Ilyas mengatakan ekspansi pasar global ini berdampak langsung pada perekonomian daerah melalui efek berganda (_multiplier effect_). Aktivitas ekspor ini menggerakkan rantai ekonomi dari hulu ke hilir, mulai dari tingkat petani di dataran tinggi Gayo hingga sektor logistik dan pelabuhan.
"Yang kita bangun bukan sekadar transaksi perdagangan, melainkan sebuah ekosistem ekonomi yang memberikan nilai tambah secara berkelanjutan bagi Aceh," ujar Faisal.
Menurut Faisal, akselerasi ekspor *specialty coffee* ini tidak hanya mendongkrak devisa negara, tetapi juga berpotensi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Strategi ini sekaligus memperkuat identitas kopi Gayo sebagai produk premium.
Guna menjaga kepercayaan pembeli asing, PT PEMA memastikan seluruh proses pemenuhan rantai pasok telah melewati standar kontrol kualitas (quality control) yang ketat serta memenuhi prinsip keberlanjutan.