JAKARTA – Menjelang momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 2026, Bank Indonesia (BI) memperkuat langkah pengendalian inflasi melalui optimalisasi penyaluran kredit di sektor pangan. Langkah ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah potensi lonjakan permintaan selama Ramadan dan Lebaran.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menegaskan bahwa stabilitas harga pangan adalah kunci utama untuk memastikan inflasi tahun 2026 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5 \pm 1\%.
"Pengendalian inflasi diperkuat melalui koordinasi dari hulu hingga hilir guna meredam gejolak harga yang sensitif terhadap lonjakan permintaan dan gangguan distribusi," ujar Aida dalam seminar bertajuk “Ramadan Tenang, Harga Terkendali” di Jakarta, Senin (2/3).
Strategi Menghadapi Ketidakpastian Global
Di tengah volatilitas pasar keuangan internasional dan fragmentasi perdagangan, BI menerapkan strategi 3K untuk menjaga resiliensi ekonomi domestik:
- Kebijakan yang Terintegrasi: Menggabungkan berbagai instrumen kebijakan moneter.
- Kolaborasi Erat: Bersinergi dengan Pemerintah Pusat dan Daerah.
- Komitmen di Pasar: Menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah untuk meredam imported inflation.
Meskipun inflasi Februari 2026 tercatat sebesar 4,76% (yoy)—yang sebagian besar dipengaruhi faktor base effect tarif listrik tahun lalu—BI optimis pertumbuhan ekonomi 2026 akan tetap tangguh di kisaran 4,9–5,7%.
Fokus pada Strategi 4K dan Penyaluran Kredit
Untuk memastikan Ramadan tahun ini berjalan tenang, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP & TPID) memfokuskan implementasi pada strategi 4K:
- Keterjangkauan Harga
- Ketersediaan Pasokan
- Kelancaran Distribusi
- Komunikasi Kebijakan
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, memastikan bahwa stok pangan nasional aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama masa HBKN.
Dukungan Likuiditas untuk Sektor Pangan
Sektor perbankan turut mengambil peran penting. Per Januari 2026, kredit perbankan tumbuh signifikan sebesar 9,96% (yoy). Guna mendorong pembiayaan ke sektor prioritas seperti pertanian dan UMKM pangan, BI telah menyalurkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) sebesar Rp427,5 triliun hingga awal Februari 2026.
Direktur Mikro BRI, Akhmat Purwakajaya, menyatakan komitmen perbankan untuk terus menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif. Hal ini sejalan dengan pandangan ekonom senior CORE Indonesia, Hendri Saparini, yang menilai penguatan produksi domestik lewat pembiayaan adalah kunci agar tekanan musiman tidak menggerus daya beli masyarakat.
Dengan bauran kebijakan ini, Bank Indonesia berharap stabilitas harga tetap terjaga sehingga momentum pertumbuhan ekonomi nasional dapat terus berkelanjutan.