BANDA ACEH – Pemerintah Provinsi Aceh bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Aceh mempererat kolaborasi dalam memastikan stabilitas harga bahan pokok di awal tahun 2026. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya pemulihan cepat (recovery) setelah bencana hidrometeorologi yang sempat mengganggu jalur distribusi pada akhir tahun lalu.
Hingga Januari 2026, inflasi tahunan (yoy) di Aceh tercatat sebesar 6,69%. Angka ini dipengaruhi oleh gangguan produksi komoditas strategis akibat cuaca ekstrem. Namun, seiring pulihnya jalur logistik di 5 kabupaten/kota IHK, tren positif mulai terlihat melalui normalisasi pasokan pangan dan energi.
Strategi Mitigasi dan Pemulihan. Pemerintah Provinsi Aceh melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) kini fokus pada tiga langkah utama:
Pemantauan Intensif: Pengawasan stok komoditas di pasar dilakukan secara harian.
Akurasi Data: Penyesuaian responden dan imputasi harga dilakukan untuk memastikan kebijakan tepat sasaran.
Stabilitas Pasokan: Memastikan kelancaran jalur logistik pasca-bencana guna menekan harga pangan dan energi.
BI Aceh Ajak Warga "Belanja Bijak"
Dalam kegiatan Bincang Bincang Media (BBM) di Banda Aceh, Kamis (26/2), Kepala Perwakilan BI Provinsi Aceh, Agus Chusaini, menekankan pentingnya peran serta masyarakat. Menurutnya, sinergi kebijakan harus didukung oleh perilaku konsumsi yang cerdas.
"Kami optimis kondisi akan terus membaik. Kuncinya adalah sinergi antara kebijakan pemerintah dan perilaku konsumsi masyarakat melalui gerakan 'Belanja Bijak' dan program 'Dapur Cerdas Inflasi'," ungkap Agus.
Bank Indonesia mengusung Empat Pilar Belanja Bijak sebagai panduan masyarakat:
Bijak Membeli: Sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan.
Bijak Memilih: Mengutamakan pangan lokal dan produk olahan.
Bijak Konsumsi: Berhenti membuang-buang pangan (stop boros pangan).
Bijak Bertransaksi: Mengoptimalkan penggunaan QRIS untuk kemudahan dan keamanan.
Solusi Jangka Panjang: Urban Farming. Selain gerakan moral, BI Aceh juga mendorong masyarakat menerapkan Urban Farming di tingkat rumah tangga. Kemandirian pangan melalui bercocok tanam di lahan terbatas dinilai sebagai solusi jangka panjang yang efektif untuk meredam tekanan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat Aceh.
Pemerintah menghimbau warga untuk tetap tenang dan tidak melakukan panic buying, karena koordinasi lintas sektor terus bekerja memastikan ketersediaan seluruh kebutuhan pokok terpenuhi secara merata.(*)