JAKARTA – Bank Indonesia (BI) resmi merilis Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2025 dengan tema "Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan".
Laporan ini menyoroti ketahanan ekonomi nasional yang tetap terjaga meski dihadapkan pada tantangan perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian yang tinggi.
Stabilitas Terjaga, Pertumbuhan Meningkat. Di tengah dinamika global, ekonomi Indonesia menunjukkan performa yang solid. Bank Indonesia mencatat bahwa stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional tetap terjaga.
Hal ini tercermin dari realisasi kebijakan moneter selama tahun 2025, di mana BI sempat menurunkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 4,75% pada September 2025 untuk mendorong pertumbuhan dengan tetap menjaga inflasi dalam sasaran 2,5±1%.
Perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi, menjadi salah satu yang terbaik di antara negara-negara Emerging Market Economies (EMEs).
Lima Pilar Sinergi Ekonomi Nasional. Untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya tahan, BI menekankan pentingnya sinergi bauran kebijakan nasional yang difokuskan pada lima area strategis. Memperkuat stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Mendorong transformasi sektor riil guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Meningkatkan sumber pembiayaan perekonomian dan pasar keuangan melalui koordinasi KSSK. Akselerasi digitalisasi ekonomi dan keuangan nasional. Efektivitas kerja sama internasional dalam perdagangan dan investasi.
Lompatan Ekonomi Digital. Sektor digital diproyeksikan menjadi motor baru pertumbuhan. Nilai ekonomi digital Indonesia yang tercatat sebesar 90 miliar dolar AS pada 2024 diprediksi akan melonjak signifikan hingga mencapai 360 miliar dolar AS pada tahun 2030. BI berkomitmen terus mengakselerasi digitalisasi sistem pembayaran melalui perluasan adopsi QRIS dan BI-FAST untuk mendukung inklusi keuangan.
Industrialisasi dan Hilirisasi Jadi Kunci. Pemerintah dan Bank Indonesia juga sepakat bahwa transformasi struktural melalui kebijakan industrialisasi dan hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA) adalah langkah krusial. Upaya ini diarahkan untuk memperkuat daya saing nasional, di mana saat ini peringkat daya saing Indonesia berada di posisi 40 dari 69 negara menurut IMD World Competitiveness Yearbook 2025.
Melalui sinergi bauran kebijakan antara otoritas moneter, fiskal, dan sektor riil, Indonesia optimis dapat menavigasi tantangan ekonomi global dan bergerak menuju visi Indonesia Maju.