Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tekan Harga, Distanbun Aceh Terus Berupaya Tingkatkan Produksi Bawang Merah

Kamis, 01 September 2022 | 16.22 WIB Last Updated 2022-09-01T09:22:36Z
Banda Aceh – Harga cabai merah dan bawang merah di Aceh terus bergejolak. Lonjakan harga kedua komoditas hortikultura tersebut begitu signifikan dalam dua tahun terakhir.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Ir. Chairil Anwar, MP. menyampaikan, kenaikan harga cabai merah dan bawang merah ini disebabkan tidak seragamnya antara supply dan demand. Artinya pasokan sedikit, sedangkan permintaan banyak sehingga terjadi fluktuasi harga yang sangat tinggi.

“Sebenarnya kalau kita melihat ini sudah termasuk ke dalam keadaan yang sangat urgent, karena itu kebutuhan masyarakat. Komoditas hortikultura yaitu bawang merah, cabai merah, cabai rawit dan bawang putih yang selalu menyebabkan terjadinya inflasi di Aceh,” sebut Chairil.

Namun, kata dia, komoditi pangan di Aceh yang paling bermasalah dan selalu defisit setiap tahunnya adalah bawang merah.

“Kalau cabai merah kita surplus seperti di tahun 2021, tapi walaupun surplus, kadang-kadang juga terjadinya fluktuasi harga yang sangat tinggi,” ujar Chairil.

Ia mengatakan, pihaknya pernah meminta Kementerian Pertanian (Kementan) agar diberikan bantuan untuk pembuatan pabrik industri pengolahan cabe merah menjadi cabai pasta di Aceh.

“Tujuan untuk menampung cabai merah pada saat terjadi over produksi, nanti cabainya diproses dan disimpan selama 1 s/d 3 bulan, kemudian pada saat harga cabai mahal, kita bisa menjual cabai pasta,” jelas Chairil.

Namun, kata dia, cabai pasta ini masih asing di kalangan masyarakat Aceh, karena tidak terbiasa menggunakan cabai hasil olahan, padahal rasa dan kualitasnya tidak jauh berbeda.

Sedangkan untuk produksi bawang merah, lanjut Chairil, Aceh memang selalu mengalami defisit. Karena kebutuhan ketersediaan bawang merah di Aceh sekitar 41 ribu ton per tahun, dan saat ini Aceh hanya mampu menyediakan sekitar 11 ribu ton, jadi masih kekurangan sebanyak 30 ribu ton bawang merah.

“Kita punya luas tanam di Aceh bawang merah itu sekitar 1.100 hektar, dan hanya mampu memproduksi sekitar 11.000 ton. Sedangkan kebutuhan kita di Aceh ini sekitar 41.000 ton per tahun, jadi kita masih difisit 30.000 ton,” jelasnya.

Karena itu, Chairil mengatakan Distanbun Aceh akan terus berupaya untuk meningkatkan produksi komoditi bawang merah, agar kebutuhan masyarakat sebanyak 41 ribu ton per tahun ini bisa tercapai.

“Karena kalau dihitung dari jumlah kebutuhan tersebut, kita harus menanam bawang merah seluas 3.000 hektar, dan itu harus punya anggaran sekitar Rp180 miliar, jadi kita tidak punya anggaran segitu,” ujarnya.

Jadi salah satu cara adalah dengan mendorong pihak swasta atau pengusaha di Aceh untuk ikut melakukan usaha pertanian, terutama komoditi bawang merah, karena memang prospeknya sangat besar dan bernilai ekonomi sangat tinggi.

Seperti yang pernah dilakukan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Aceh, mereka mampu mengarahkan para anggotanya untuk melakukan budidaya bawang merah pada lahan seluas 50 hektare di Kabupaten Pidie.

“Kita sangat apresiasi yang dilakukan anggota Kadin Aceh, Pak Zakaria, dia mampu menarik minat dan mengajak rekan-rekannya untuk menginvestasikan sekitar 50 hektar di Kabupaten pidie dengan sistem bagi hasil kepada petani,” ucap Chairil.

Distanbun Aceh juga sudah mengarahkan Pemerintah Kabupaten/Kota untuk melakukan hal yang sama dengan mengajak para pengusaha di Kabupaten/Kota untuk terjun ke dunia usaha pertanian budidaya bawang merah, dan dinilai sangat menguntungkan dari segi bisnis. 


Sumber: kontrasaceh.net
×
Berita Terbaru Update