Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Menjalankan Syariat dengan Ekonomi dan Keuangan Islam

Senin, 25 April 2022 | 23.58 WIB Last Updated 2022-04-25T17:12:13Z
Banda Aceh - Bank Indonesia mengadakan talk show yang disiarkan secara on air via Radio RRI. Talk show mengangkat tema “Menjalankan Syariat melalui Ekonomi dan Keuangan Islam”, di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Senin (25/4).

Dalam kegiatan tersebut dihadiri narasumber Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Achris Sarwani, Pimpinan Dayah Babul Maghfirah, Ustad. Masrul Aidi, Lc, dan Anggota Dewan Komisioner Baitul Mal Aceh, Ibu Khairina, S.T. 

Talk show dibuka dengan pemaparan Achris Sarwani yang menjelaskan bahwa ekonomi dan keuangan syariah di Aceh memiliki pemahaman yang lengkap, yakni mencakup sektor produksi atau sektor riil, dan sektor keuangan. 

Terkait dengan sektor produksi atau sektor riil, kondisi perekonomian Aceh telah menunjukkan perbaikan di kuartal IV 2021 setelah terkontraksi pada tahun sebelumnya. 

Pada masa pemulihan ekonomi saat ini pasca pandemi Covid-19, ekonomi syariah di Aceh memiliki potensi yang sangat besar, mengingat Aceh memiliki dukungan penuh dari pemerintah untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan Islam dengan adanya Qanun, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), serta Baitul Mal Aceh (BMA). Selain itu, mayoritas penduduk muslim Aceh merupakan potensi yang sangat besar. 

“Penduduk muslim Aceh mencapai 98%, di samping itu ada 4.065 masjid yang tersebar di seluruh Aceh, belum termasuk mushola yang ada. Pesantren di Aceh juga ada lebih dari seribu dengan jumlah santri mencapai kurang lebih satu juta. Ini merupakan potensi besar, karena setiap santri, setiap masyarakat muslim perlu makan, bayangkan jika semua kebutuhan itu kita penuhi sendiri tidak perlu impor dari luar daerah” ucap Achris. 

Pangsa pasar ekonomi dan industri halal di Aceh begitu besar, hal ini diharapkan menjadi motivasi bagi masyarakat untuk bisa bergerak menjadi produsen, tidak hanya sebatas menjadi konsumen. 

Ustad Masrul Aidi juga menjelaskan bahwa Islam sangat mendukung umatnya untuk produktif melalui kegiatan ekonomi. Melakukan kegiatan ekonomi dan keuangan di dalam Islam tidaklah dilarang, selama tidak melakukan pelanggaran syariah. 

Diingatkan pula kepada masyarakat untuk tidak melakukan penimbunan harta karena terdapat ancaman bagi para penimbun harta. Harta yang dimiliki sebaiknya didistribusikan melalui konsumsi, investasi, serta zakat, infak, shodaqoh, dan wakaf (ZISWAF). 

Oleh sebab itu, sangat penting bagi masyarakat Aceh memiliki mindset produktif. 

Narasumber ketiga, Khairina memaparkan potensi keuangan sosial di Aceh. Aceh memiliki potensi dana keuangan sosial yang sangat besar mencapai Rp 1 triliun, namun saat ini dana yang terhimpun masih belum optimal. 

BMA terus berusaha untuk dapat menyalurkan dana ZISWAF ke dalam bentuk yang produktif, tidak hanya sebatas dana konsumtif saja. 

BMA juga berupaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan wakaf produktif yang saat ini ada di masyarakat dan belum dimanfaatkan. Upaya ini dimulai dengan pendataan dan pemetaan aset-aset wakaf. 

Melalui talk show ini, diharapkan masyarakat Aceh dapat menjadi lebih produktif dan tidak hanya sebagai konsumen pasar saja. Di samping itu, pemanfaatan dana infak dan aset wakaf diharapkan dapat membantu masyarakat secara maksimal agar menjadi produktif sehingga masyarakat tidak perlu bergantung pada daerah lain untuk memenuhi kebutuhannya. 

“Masyarakat perlu produktif, agar ZISWAF juga bergerak semakin produktif,” tambah Achris.

Menjelang akhir talk show diinformasikan bahwa akan dilaksanakan kegiatan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) se-Sumatera pada awal bulan Agustus 2022 nanti, dimana Aceh akan menjadi tuan rumah dari event regional tersebut. 

Fesyar akan diisi dengan berbagai kegiatan, seperti talk show, pameran, fashion show, berbagai macam perlombaan, business matching, expo produk-produk UMKM, dan sebagainya.
×
Berita Terbaru Update