![]() |
| Kepala Bappeda Aceh Ir. Helvizar Ibrahim, M.Si saat memberikan kata sambutan pada pembukaan Aceh Economic Summit 2019.(1st) |
wartanasional.co, Banda Aceh - Bappeda Provinsi Aceh menggelar Acara Aceh Economic Summit (AES) 2019 dengan mengangkat tema "Aceh Smart Province: Meningkatkan Kesejateraan Rakyat melalui pelaksanaan kebijakan ekonomi berbasis pengetahuan", kegiatan tersebut berlangsung di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh, Senin (2/12). Kegiatan ini merupakan agenda tahunan Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Alam (ESDA) Bappeda Aceh yang telah dilakukan sejak tahun 2016 sampai dengan saat ini.
Acara tersebut dibuka oleh Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, yang diwakili Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Aceh T. Ahmad Dadek, SH. dalam kata sambutannya, menjelaskan dalam rangka percepatan pembangunan Aceh perlu dilakukan perencanaan ekonomi Aceh tahun 2021 secara sinergis dan terintegrasi.
"Kondisi pembangunan ekonomi Aceh relatif rendah jika dibandingkan dengan beberapa Provinsi di Sumatera dan Nasional. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang rendah, tingkat kemiskinan dan pengangguran yang masih tinggi, terjadi capital output flows dengan defisit neraca perdagangan antar daerah serta minimnya investasi dan peran swasta dalam pembangunan Aceh. Pada tahun 2019 perekonomian Aceh dan beberapa indikator sosial ekonomi mulai tumbuh secara signifikan. Kebijakan pembangunan agroindustri yang mengarah pada peningkatan nilai tambah produk pertanian dengan pemanfaatan teknologi 4.0 sejak dari hulu sampai ke hilir."ujarnya.
Sementara Kepala Bappeda Aceh Ir. Helvizar, M. Si menjelaskan dalam rangka mempercepat pembangunan Aceh, perlu dilakukan perencanaan ekonomi Aceh tahun 2021 secara sinergis dan terintegrasi. Tujuan dari acara ini adalah untuk : (1) menciptakan kesepahaman dan solusi peningkatan pertumbuhan ekonomi serta intervensi strategis untuk penyelesaian berbagai kendala guna meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan Aceh yang dilandasi oleh Evidence Based Planning, (2) memperoleh masukan/rekomendasi kebijakan strategis Pemerintah Aceh dalam menghadapi Peluang dan Tantangan Percepatan Pembangunan Ekonomi Acehdi Era 4.0.
Pada acara Aceh Economic Summit menghadirkan beberapa narasumber yaitu :
- Kepala Bank Indonesia Provinsi Aceh dengan tema “Outlook Perekonomian Aceh 2019 dan Peluang Sektor Industri Perdagangan Aceh dalam Menyongsong Industri 4.0”.
- Dosen Fakultas Ekonomi (Dr. Nazamuddin, SE, MA) dengan tema “Peluang dan Tantangan Aceh dalam Era Revolusi Industri 4.0 (Aspek SDM dan Ekonomi)”.
- Kepala Kanwil Ditjen Bea Cukai Aceh (Safuadi, ST, M.Dc, Ph.D) dengan tema “Peluang Pemerintah Aceh dalam Menjaring Infrastruktur Strategis Nasional sebagai Upaya Percepatan Pembangunan Sektor Industri dan Perdagangan”.
- Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry dengan tema “Percepatan Pembangunan Aceh melalui Ekonomi Syariah”.
- Ketua Kadin Aceh dengan tema “Peran Strategis Kadin dan Sektor Swasta dalam Mereduksi Defisit Perdagangan Aceh di Era 4.0”.
- Tokopedia dengan tema “Konsep dan Penerapan Teknologi Digital BerbasisE-Commerce dalam Peningkatan Ekonomi Lokal”.
- Direktur UKM Center Fakultas Ekonomi Unsyiah dengan tema “Strategi Pengembangan Produk UMKM untuk Menghadapi Pasar Global”.
- Bitata Food dengan tema “ Sukses Stori penerapan E-Commerce pada Pelaku UMKM”.
Paparan narasumber dibagi menjadi 2 (dua) sesi :
- Sesi 1 (satu) terdiri dari 4 narasumber yang secara umum mengupas tentang gambaran perekonomian global domestik dan lokal. Peluang dan tantangan dalam era revolusi 4.0, kebijakan-kebijakan strategis Pemerintah Aceh dalam pembangunan infrastruktur untuk mendukung pertumbuhan ekonomi serta keberlanjutan pembangunan Aceh melalui ekonomi syariah.
- Sesi ke 2 (dua) terdiri dari 4 narsumber, pada sesi ini fokus tentang dunia usaha mikro di Aceh. Yang bertujuan agar pelaku usaha di Aceh (UMKM) mendapatkan sharing pengalaman, informasi dan peluang bermitra dari tokopedia maupun dengan pengusaha besar di Aceh.
Pada kesempatan tersebut, para narasumber mengakui bahwa isu mengenai smart province sangat relevan dengan perkembangan teknologi saat ini. Hal ini juga sejalan dengan rencana Pemerintah Pusat untuk membangun konsep smart nation, dan secara tidak Iangsung mendukung tumbuhnya smart village, dan smart city. Dalam konteks Aceh, revolusi industri merupakan tantangan, sekaligus memberi solusi atas berbagai persoalan ekonomi yang tengah dihadapi. (adv)
