wartanasional.co, Lhokseumawe - PYM. Wali Nanggroe Aceh Tengku Malik Mahmud Al-Haythar menghadiri Acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1441 H,di Komplek rumah dinas Walikota Lhokseumawe ,Kamis (21/11/2019)
Dalam Sambutannya Wali Nanggroe Mengatakan, sejarah mencatat saat salahuddin al ayyubi menjadi sultan, ummat islam dalam kondisi yang mencemaskan akibat penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati).
Penyakit hati ini menyebar dan tumbuh subur di dalam hati sebagian besar kaum muslimin masa itu sehingga api jihad benar benar padam. Di sisi lain ukhuwah ummat muslim sangatlah hancur. Secara politik ummat islam terpecah pecah dalam beberapa kerajaan dan kesultanan.
Malik Mahmud Al-Haythar melanjutkan, salahuddin menggagas sebuah festival yang dinamai dengan maulid nabi muhammad saw. Tujuan dari festival ini adalah untuk mengembalikan semangat juang rasulullah dengan mempelajari sirah-sirahnya. Di festival ini, dikaji habis-habisan sirah nabawiyah (sejarah nabi) dan atsar (perkataan) sahabat, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai perjuangan (jihad).
“apa yang terjadi masa itu nyaris sama dengan kondisi kita hari ini. Oleh sebab itu maulid nabi besar muhammad saw yang senantiasa kita peringati setiap 12 rabi’ul awwal sejatinya bukanlah sebuah seremonial belaka. Mengingat hari dimana manusia terbaik di muka bumi lahir adalah cara introspeksi, agar kita kembali merenung makna kehadiran rasul sebagai tauladan bagi pribadi masing-masing atas tujuan dan pencapaian hidup dimuka bumi ini,” Kata Wali Naggroe.
Malik Mahmud Al-Haythar menjelaskan, Jika sultan salahuddin mampu membangkitkan ghirah (semangat juang) kaum muslimin pada saat itu dengan menumbuhkan semangat jihad, maka seharusnya peringatan maulid ini, juga mampu menjadi momentum membangkitkan ghirah untuk mepersatukan seluruh elemen rakyat aceh.
“Rakyat aceh pernah bersatu dan maju di bawah malikul ‘adil dan menjadi salah satu dari lima kekuatan islam di dunia,”Terangnya.
Wali Nanggroe juga menyampaikan,Dengan mempelajari kembali sirah nabawiyah adalah mempelajari tentang perjalanan hidup dan akhlak rasul yang mulia dalam mengenalkan tauhid dan aqidah islam. Perjuangan rasulullah saw dengan akhlak yang begitu mulianya tetap saja mendapat penentangan, penolakan, intimidasi,bahkan perlakuan kejam yang melukai fisik beliau dan para sahabat lainnya.
“Apalah artinya tantangan dan pengorbanan kita, manusia biasa yang hidup di akhir zaman ini, bila dibandingkan dengan baginda rasulullah SAW,”.
“Hal ini pun sesungguhnya kami rasakan juga, namun selaku wali nangroe aceh yang mengemban misi mempersatukan rakyat aceh, meninggikan dinul islam, mewujudkan kemakmuran rakyat, menegakkan keadilan serta menjaga perdamaian, tantangan dan rintangan ini harus tetap kami tempuh demi mewujudkan cita-cita aceh mulia,”tuturnya.
PYM Malik Mahmud menambahkan,Peradaban aceh yang tamaddun hanya bisa diwujudkan apabila seluruh elemen pemerintah dan masyarakat, termasuk masyarakat adat bahu membahu saling membantu mewujudkan aceh damai, adil, sejahtera dalam bingkai syariah islam.
“Jangan lagi kita saling curiga, saling mendendam dan saling menghambat sesama kita. Keistimewaan aceh harus diperjuangkan. Tidak bisa dengan cara biasa tetapi harus dengan upaya luar biasa,”.
“Ini hanya bisa dicapai sekali lagi bila kita memiliki kesamaan visi dan misi. Kesamaan yang diwujudkan dengan cara-cara santun. Saya percaya bahwa kita, orang aceh khususnya memiliki watak dan karakter yang santun dan lemah lembut, sebagimana telah dicontohkan baginda nabi muhammad saw,” Pungkasnya.(Red)
Dalam Sambutannya Wali Nanggroe Mengatakan, sejarah mencatat saat salahuddin al ayyubi menjadi sultan, ummat islam dalam kondisi yang mencemaskan akibat penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati).
Penyakit hati ini menyebar dan tumbuh subur di dalam hati sebagian besar kaum muslimin masa itu sehingga api jihad benar benar padam. Di sisi lain ukhuwah ummat muslim sangatlah hancur. Secara politik ummat islam terpecah pecah dalam beberapa kerajaan dan kesultanan.
Malik Mahmud Al-Haythar melanjutkan, salahuddin menggagas sebuah festival yang dinamai dengan maulid nabi muhammad saw. Tujuan dari festival ini adalah untuk mengembalikan semangat juang rasulullah dengan mempelajari sirah-sirahnya. Di festival ini, dikaji habis-habisan sirah nabawiyah (sejarah nabi) dan atsar (perkataan) sahabat, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai perjuangan (jihad).
“apa yang terjadi masa itu nyaris sama dengan kondisi kita hari ini. Oleh sebab itu maulid nabi besar muhammad saw yang senantiasa kita peringati setiap 12 rabi’ul awwal sejatinya bukanlah sebuah seremonial belaka. Mengingat hari dimana manusia terbaik di muka bumi lahir adalah cara introspeksi, agar kita kembali merenung makna kehadiran rasul sebagai tauladan bagi pribadi masing-masing atas tujuan dan pencapaian hidup dimuka bumi ini,” Kata Wali Naggroe.
Malik Mahmud Al-Haythar menjelaskan, Jika sultan salahuddin mampu membangkitkan ghirah (semangat juang) kaum muslimin pada saat itu dengan menumbuhkan semangat jihad, maka seharusnya peringatan maulid ini, juga mampu menjadi momentum membangkitkan ghirah untuk mepersatukan seluruh elemen rakyat aceh.
“Rakyat aceh pernah bersatu dan maju di bawah malikul ‘adil dan menjadi salah satu dari lima kekuatan islam di dunia,”Terangnya.
Wali Nanggroe juga menyampaikan,Dengan mempelajari kembali sirah nabawiyah adalah mempelajari tentang perjalanan hidup dan akhlak rasul yang mulia dalam mengenalkan tauhid dan aqidah islam. Perjuangan rasulullah saw dengan akhlak yang begitu mulianya tetap saja mendapat penentangan, penolakan, intimidasi,bahkan perlakuan kejam yang melukai fisik beliau dan para sahabat lainnya.
“Apalah artinya tantangan dan pengorbanan kita, manusia biasa yang hidup di akhir zaman ini, bila dibandingkan dengan baginda rasulullah SAW,”.
“Hal ini pun sesungguhnya kami rasakan juga, namun selaku wali nangroe aceh yang mengemban misi mempersatukan rakyat aceh, meninggikan dinul islam, mewujudkan kemakmuran rakyat, menegakkan keadilan serta menjaga perdamaian, tantangan dan rintangan ini harus tetap kami tempuh demi mewujudkan cita-cita aceh mulia,”tuturnya.
PYM Malik Mahmud menambahkan,Peradaban aceh yang tamaddun hanya bisa diwujudkan apabila seluruh elemen pemerintah dan masyarakat, termasuk masyarakat adat bahu membahu saling membantu mewujudkan aceh damai, adil, sejahtera dalam bingkai syariah islam.
“Jangan lagi kita saling curiga, saling mendendam dan saling menghambat sesama kita. Keistimewaan aceh harus diperjuangkan. Tidak bisa dengan cara biasa tetapi harus dengan upaya luar biasa,”.
“Ini hanya bisa dicapai sekali lagi bila kita memiliki kesamaan visi dan misi. Kesamaan yang diwujudkan dengan cara-cara santun. Saya percaya bahwa kita, orang aceh khususnya memiliki watak dan karakter yang santun dan lemah lembut, sebagimana telah dicontohkan baginda nabi muhammad saw,” Pungkasnya.(Red)
