Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Dari Aceh ke USIM: Dr. Dicky Wirianto Bahas Integrasi Moderasi Beragama dalam Tasawuf

Kamis, 24 September 2026 | 14.15 WIB Last Updated 2026-09-24T07:15:31Z
Banda Aceh, 24 September 2026 — Dr. Dicky Wirianto, M.A., Ketua STAI Nusantara Banda Aceh, tampil sebagai presenter dalam Symposium on the Issues of the Quran and Sunnah (SIQAS 2/2026) yang diselenggarakan oleh Faculty of Quranic and Sunnah Studies (FPQS), Universiti Sains Islam Malaysia (USIM).

Kegiatan akademik tersebut berlangsung secara daring melalui Microsoft Teams pada Rabu, 23 September 2026, dan diikuti oleh akademisi, peneliti, serta peserta dari berbagai negara. Forum ini menjadi ruang akademik untuk mempertemukan berbagai perspektif dalam kajian Al-Qur'an dan Sunnah sekaligus membuka peluang pengembangan jejaring keilmuan lintas negara.

Mengangkat Perspektif Tasawuf dari Aceh

Dalam forum tersebut, Dr. Dicky Wirianto membawakan tema:

“Reframing Sufism as a Framework for Religious Moderation: The MPTT-I Experience in Aceh, Indonesia”

yang membahas bagaimana tasawuf dapat diintegrasikan dengan konsep moderasi beragama, dengan mengambil pengalaman Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-I) di Aceh sebagai salah satu objek kajian.

Pembahasan menempatkan tasawuf tidak hanya sebagai dimensi spiritual individual, tetapi juga sebagai pendekatan yang memiliki keterkaitan dengan pembentukan akhlak, keseimbangan dalam beragama, toleransi, pengendalian diri, dan kehidupan sosial yang harmonis.

Aceh dan Malaysia: Hubungan Serumpun

Kehadiran dalam forum USIM juga memiliki konteks historis yang kuat. Aceh dan Malaysia memiliki hubungan yang panjang dan erat, baik dalam aspek agama, budaya, bahasa, tradisi keilmuan maupun hubungan antarmasyarakat.

Kedua wilayah merupakan bagian dari ruang budaya Melayu yang memiliki banyak persamaan dan sejarah interaksi yang panjang. Jaringan ulama, perdagangan, pendidikan Islam, serta pertukaran masyarakat telah menjadi bagian dari hubungan kedua kawasan tersebut.

Kedekatan sebagai masyarakat serumpun ini menjadi modal penting untuk terus memperkuat hubungan, tidak hanya dalam aspek sosial dan budaya, tetapi juga dalam bidang pendidikan tinggi dan penelitian.

Pentingnya Metodologi yang Kuat

Dalam presentasinya, Dr. Dicky juga memberikan perhatian khusus terhadap aspek metodologi penelitian.

Menurut perspektif yang disampaikan dalam forum tersebut, kajian tasawuf, Al-Qur'an, Sunnah, dan fenomena keberagamaan membutuhkan metodologi yang kuat dan tepat. “Methodology is very important” dalam memastikan bahwa data, argumentasi, interpretasi, dan temuan penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Karena itu, pengembangan studi Islam perlu mempertemukan sumber-sumber Naqli dengan pendekatan Aqli, serta didukung oleh metodologi penelitian yang sesuai dengan objek dan pertanyaan penelitian.

Dalam konteks ini, hasil kajian mengenai MPTT-I juga dikaitkan dengan kerangka epistemologis USIM yang menekankan integrasi Naqli dan Aqli, serta hubungan antara Tauhid, Al-Qur'an dan Sunnah, ilmu pengetahuan, dan Akhlak.

Membuka Ruang Kolaborasi Riset Indonesia–Malaysia

Keikutsertaan Dr. Dicky Wirianto dalam SIQAS 2/2026 diharapkan tidak berhenti pada forum presentasi dan pertukaran gagasan. Lebih jauh, momentum tersebut diharapkan dapat membuka ruang bagi kolaborasi penelitian antarlembaga di Indonesia dan Malaysia.

Pada bagian penutup, Dr. Dicky menyampaikan harapan agar hubungan akademik yang dibangun melalui forum internasional seperti SIQAS dapat berkembang menjadi kerja sama yang lebih konkret.

“Ke depan, kita berharap dapat membangun lebih banyak riset kolaboratif antarlembaga, khususnya antara institusi pendidikan tinggi di Indonesia dan Malaysia. Kedekatan historis dan budaya sebagai masyarakat serumpun merupakan modal penting untuk membangun kerja sama keilmuan yang lebih kuat.”

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan penelitian yang kuat secara metodologis, relevan secara akademik, serta memberikan kontribusi bagi pengembangan studi Al-Qur'an, Sunnah, tasawuf, moderasi beragama, dan kehidupan masyarakat.

Dengan demikian, partisipasi dalam SIQAS 2/2026 USIM menjadi salah satu langkah dalam memperkuat hubungan akademik Aceh–Malaysia sekaligus membawa perspektif keislaman dari Aceh ke dalam ruang dialog akademik internasional.(*)

News

Kabar Aceh

×
Berita Terbaru Update