Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Dari Lamno untuk Langit Indonesia: Komunitas Ruang Gerak Belajar dari Maestro Patriot Transportasi Udara Teungku Nyak Sandang

Minggu, 01 Maret 2026 | 08.49 WIB Last Updated 2026-03-01T11:49:15Z
Aceh Jaya – Perjalanan Komunitas Ruang Gerak menuju Lamno, Kabupaten Aceh Jaya, menjadi lebih dari sekadar agenda Safari Ramadhan. Niat awal kami sederhana: menunaikan shalat dzuhur berjamaah dan mengaji di Masjid Nyak Sandang dan menapak jejak sejarah di sekitarnya, termasuk Makam Poetemerhoem. Namun Allah mempertemukan kami dengan sesuatu yang jauh lebih dalam dan bermakna — perjumpaan langsung dengan sosok yang ikut mengangkat langit Indonesia, Teungku Nyak Sandang.

Di lingkungan masjid yang sarat sejarah itu, kami mendengar namanya disebut dengan penuh hormat. “Ayah Sandang,” begitu ia akrab disapa, tutur Ngoh Min, salah seorang keluarga yang menyambut kami selepas shalat dzuhur. Sapaan sederhana itu terasa hangat, seolah memperkenalkan kami bukan hanya pada seorang tokoh bangsa, tetapi pada seorang ayah yang misi hidupnya adalah pengabdian.

Antusias untuk belajar dan mendengar langsung kisah hidupnya.     Tim Ruang Gerak diajak ke kediaman beliau. Di rumah yang tenang dan bersahaja itu, ditemani anak dan cucunya, maksud kedatangan kami disampaikan. Tak lama kemudian, Ayah Sandang bangkit dari tempat istirahatnya dengan senyum penuh semangat.

Dengan suara ramah dalam bahasa Aceh, beliau memperkenalkan diri: "Umue lon aneuk, siretouh sa thon. Lon lahe tangga peut buleun dua sikureungblah dua ploh tujoh." (Umur  saya nak, 101 tahun. Saya lahir tanggal 4 bulan 2 tahun 1927).

Kalimat pembuka itu menjadi pintu bagi kisah panjang yang mengalir hangat siang itu. Tanpa banyak pertanyaan, cerita demi cerita beliau tuturkan seakan telah memahami maksud kedatangan kami.

Di usia 21 tahun, ia menyaksikan langsung kedatangan Presiden RI Ir. Soekarno bersama Gubernur pertama Aceh Prof. H. Muhammad Ali Hasjmy, yang berpidato di Masjid Baiturrahman Lamno — yang kini berada di kawasan pasar Lamno. Saat itu, Presiden menyampaikan kebutuhan bangsa yang baru merdeka: bantuan rakyat Aceh untuk membeli “besi terbang” demi membuka jalur diplomasi ke negara-negara sahabat.

Seruan itu menggugah hati pemuda bernama Nyak Sandang.

Ia pulang dan menyampaikan kepada ayahnya tentang permohonan Presiden. Dengan penuh keyakinan, ia meminta izin untuk menjual sebidang kebun keluarga di Pulo Raya, Lhok Kruet, Aceh Jaya. Tanah itu terjual seharga dua ratus rupiah — nilai yang pada masa kini diperkirakan setara dua ratus mayam emas — demi satu tujuan: berkontribusi untuk negara yang baru berdiri.

Tak hanya beliau, rakyat Aceh saat itu turut mengumpulkan simpanan emas mereka. Dana tersebut kemudian diserahkan kepada Republik Indonesia melalui pemberian obligasi, yang kelak menjadi bagian penting dalam pengadaan pesawat pertama Indonesia, yang dikenal sebagai Seulawah RI-001. 

Puluhan tahun berlalu. Setelah 68 tahun Indonesia merdeka, Ayah Sandang akhirnya berkesempatan bertemu dengan Presiden Republik Indonesia ke-7, Joko Widodo. Dalam pertemuan itu, Presiden sempat bertanya apakah sumbangan yang diberikan dahulu dianggap sebagai pinjaman atau hutang kepada negara. Dengan tegas dan tulus, Ayah Sandang menjawab tidak. Ia tidak pernah menganggapnya sebagai hutang. Ia hanya berharap ada perhatian negara terhadap dirinya sebagai bagian kecil dari sejarah perjuangan tersebut.

Presiden kemudian mempersilakan beliau untuk menyampaikan permintaan. Namun yang diminta Ayah Sandang sungguh jauh dari kesan egois. Ia hanya memohon tiga hal: operasi mata, kesempatan menunaikan ibadah haji atau umrah, serta pembangunan masjid di gampong tempat ia berdomisili agar dapat dimanfaatkan umat (Mesjid tersebut bernama Mesjid Nyak Sandang di Desa Lhuet, Lamno, Aceh Jaya).

Kemudian pada kesempatan tersebut, sebagai patriot bangsa yang masih menjadi saksi hidup sejarah, Tim Ruang Gerak juga meminta nasihat untuk generasi muda hari ini. Dengan suara lembut namun tegas, Ayah Sandang berpesan, “Wahai anak muda, di manapun kalian berada sebagai umat Islam harus selalu ingat akhirat, dan sering-seringlah bersedekah.” Pesan sederhana itu menutup pertemuan singkat kami siang itu.

Petuah tersebut diucapkan dengan ketulusan yang dalam, seakan menjadi rangkuman perjalanan hidup seorang tokoh yang memadukan kecintaan kepada bangsa dengan keteguhan iman. Bagi Tim Ruang Gerak, nasihat itu bukan sekadar kalimat penutup, melainkan pengingat bahwa setiap langkah pengabdian kepada masyarakat harus senantiasa berlandaskan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Teungku Nyak Sandang bukanlah tokoh yang dikenal karena jabatan atau kekuasaan, melainkan karena pengorbanan. Ia adalah salah satu putra Aceh yang turut berkontribusi dalam pengumpulan dana rakyat untuk membantu pembelian pesawat pertama Republik Indonesia pada masa awal kemerdekaan. Kisah tersebut menjadi bukti bahwa rakyat dari daerah terpencil sekalipun memiliki peran penting dalam menjaga dan membangun negara.

Dari tanah Lamno yang sederhana, pernah lahir pengorbanan besar yang membantu Indonesia menapaki langitnya sendiri. Semangat kebangsaan yang ditunjukkan Ayah Sandang menjadi simbol kecintaan rakyat Aceh kepada Republik Indonesia, sekaligus pengingat bahwa sejarah bangsa dibangun oleh ketulusan orang-orang yang mungkin tidak selalu tercatat dalam buku pelajaran.

Bagi Tim Ruang Gerak, perjalanan ini bukan sekadar kunjungan sejarah, melainkan perjalanan batin yang mempertemukan generasi muda dengan keteladanan nyata. Sosok Ayah Sandang mengajarkan bahwa pengabdian kepada bangsa dapat lahir dari kesederhanaan, dan bahwa kekuatan iman adalah kompas yang menjaga arah perjuangan.

Melalui kunjungan ini, Komunitas Ruang Gerak berharap kisah beliau terus hidup di tengah generasi muda sebagai sumber inspirasi. Dari Lamno, kami pulang membawa pesan tentang pengabdian, keikhlasan, dan keimanan — bahwa langkah sekecil apa pun, jika dilandasi niat yang tulus, dapat memberi arti besar bagi bangsa dan masa depan Indonesia.

News

Kabar Aceh

×
Berita Terbaru Update