BIREUEN – Meski banjir mulai surut, warga terdampak bencana di Kabupaten Bireuen masih menghadapi persoalan pelik terkait akses air bersih dan fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK). Menanggapi kondisi kritis tersebut, sejumlah lembaga kemanusiaan mulai menyalurkan bantuan teknologi pemurnian air untuk menjamin kesehatan warga.
Di lokasi pengungsian Desa Kubu, Kecamatan Peusangan, Yayasan Pemberdayaan Advokasi Nasional Bangsa (YPANBA) bersama Jejaring Masyarakat Kemanusiaan (JMK) dengan dukungan Penabulu, telah berhasil memasang satu unit Skyhydrant. Teknologi ini difungsikan untuk menyediakan air bersih yang layak konsumsi bagi masyarakat yang masih bertahan di pengungsian maupun yang telah kembali ke rumah.
Ketua YPANBA, Ruwaida, menekankan bahwa ketersediaan sanitasi dan air bersih merupakan prioritas utama dalam masa tanggap darurat yang kini diperpanjang.
“Ketersediaan air bersih dan sanitasi yang layak sangat penting, terutama untuk perempuan, anak-anak, lansia, dan kelompok risiko tinggi lainnya. Kami berupaya memastikan distribusi air berjalan lancar setiap hari, sekaligus memastikan adanya ruang aman bagi mereka di tengah situasi darurat ini,” ujar Ruwaida, Sabtu (24/1/2026).
Relawan JMK, Olan Alfian, menjelaskan bahwa instalasi Skyhydrant yang dipasang dilengkapi dengan tiga titik keran (tap stand). Keunggulan sistem ini adalah kemampuannya menghasilkan air minum yang dapat langsung diakses oleh warga.
Selain pemasangan fisik, tim relawan juga memberikan edukasi teknis kepada Sekretaris Desa Kubu, Helmi, selaku penanggung jawab di lokasi. Hal ini dilakukan agar pihak desa mampu memantau kualitas air secara mandiri.
“Fasilitas Skyhydrant ini bersifat pinjaman sementara yang dapat mendukung kebutuhan warga hingga tiga bulan ke depan. Kami berharap pemerintah setempat segera mengambil langkah permanen, mengingat bulan Ramadhan sudah semakin dekat,” harap Olan.
Meski bantuan air minum mulai teratasi, masalah sanitasi di level rumah tangga masih menjadi kendala besar. Sebagian besar fasilitas MCK di rumah-rumah warga rusak atau tidak layak pakai akibat rendaman banjir.
Desy, staf YPANBA, menyebutkan bahwa selain alat pemurni air, pihaknya juga telah menyerahkan peralatan perawatan pendukung kualitas air. Namun, ia mengakui kebutuhan pembangunan kembali MCK warga masih belum terpenuhi.
“Fasilitas MCK di masing-masing rumah warga belum mampu disiapkan untuk kebutuhan sehari-hari. Kami berharap ada pihak-pihak lain yang tergerak untuk membantu pemulihan sanitasi ini,” pungkasnya.
Hingga saat ini, warga di Meunasah Kubu dan sekitarnya masih sangat bergantung pada bantuan air bersih dari instalasi darurat tersebut sembari menunggu langkah pemulihan jangka panjang dari pemerintah daerah.