Breaking News

Aminullah Sambut Kunjungan Plt Wali Kota Tanjungbalai di Pendopo

Waris: Banda Aceh Kota Segudang Prestasi yang Layak Dikunjungi dan Dicontoh

Banda Aceh - Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman menyambut kunjungan kerja (kunker) Plt Wali Kota Tanjungbalai Waris Thalib dan rombongan di pendopo, Jumat 2 Juli 2021.

Waris datang bersama Ketua DPRK Tanjungbalai Tengku Eswin, Sekda Yusmada, dan sejumlah Kepala SKPK beserta rombongan. Kedatangan delegasi dari kota di pesisir utara Sumatra itu, dalam rangka studi tiru penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

Kepada tamunya, Aminullah berharap momen berharga tersebut dapat memperkokoh tali silaturahmi dan historis antara kedua kota yang sejatinya telah terjalin sejak lama. "Hari ini kita saling berbagi best practice demi kemajuan kedua kota pada masa mendatang."

Usai memaparkan secara singkat profil kota, Aminullah kemudian menjelaskan sektor-sektor unggulan, inovasi, pencapaian, dan sejumlah prestasi yang telah diraih pemerintahannya. "Perdagangan dan jasa, pendidikan, dan kesehatan, serta pariwisata merupakan sektor unggulan Banda Aceh," katanya.

Pada sektor pariwisata, Banda Aceh punya beragam destinasi favorit, mulai dari wisata religi, bahari, edukasi tsunami, hingga kuliner. "Kalau kuliner di kota kami jargonnya 3E: enak, enak sekali, dan enaaak sekali. Kopinya pun memiliki cita rasa terbaik di dunia. Walau tak ada kebun kopi, tapi Banda Aceh punya 1.001 warung kopi."

Mantan Dirut Bank Aceh ini pun merunut beberapa pencapaian gemilang Banda Aceh. "Dari hasil audit BPK atas laporan keuangan daerah, Banda Aceh sudah memdapatkan 13 kali berturut-turut predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Tak banyak daerah yang mampu, mungkin cuma lima kabupaten/kota di Indonesia," ungkapnya.

Lalu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Banda Aceh juga terus meroket hingga ke peringkat dua nasional. "IPM kita sekarang 85,41. Ini nomor dua nasional di bawah Yogyakarta dari 514 kabupaten/kota se-Indonesia. Pencapaian ini tidak terlepas dari terus menurunnya angka kemiskinan dan pengangguran di Banda Aceh," ungkapnya lagi.

Pada sektor perdagangan dan jasa, pihaknya fokus dalam mengembangkan dunia Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). "Jika pada 2017 jumlahnya sekitar 8.500, kini sudah mencapai 15.600 unit usaha. Dan saat ini UMKM telah menjadi tulang punggung perekonomian Kota Banda Aceh," katanya. 

Bagaimana caranya? Selain memberikan pelatihan, pendampingan, dan bantuan peralatan/perlengkapan kerja secara berkala dan berkesinambungan, Aminullah mempunyai jurus jitu dalam membangkitkan dunia UMKM. "Pada 2018, kami mendirikan lembaga keuangan mikro Mahirah Muamalah Syariah (MMS)."

Lembaga keuangan mikro milik pemerintah daerah -pertama di Indonesia- ini mengusung misi utama, yakni memberikan akses bantuan modal seluas-luasnya bagi pengusaha kecil, mulai dari Rp 500 ribu. "MMS juga menjadi senjata kami memerangi rentenir. Kalau dulu 80 persen lebih pedagang bergantung kepada rentenir, kini berdasarkan survei 2020, tinggal dua persen lagi," ujarnya.

Menanggapi Aminullah, Plt Wali Kota Tanjungbalai Waris Thalib mengatakan merasa tersanjung atas sambutan luar biasa yang diberikan. "Mengapa kami dan dewan berkunjung ke sini? Karena di bawah kepimpinan Pak Aminullah, Banda Aceh punya segudang prestasi. Jadi layak untuk dikunjungi, dicontoh, dan dipelajari kiat suksesnya."

Selain itu, Tanjungbalai dan Banda Aceh memiliki hunungan historis yang kuat sedari masa kesultanan dahulu. "Pada 1612 dalam perjalanan ke Johor, Sultan Aceh singgah di sebuah tanjung sungai Asahan, yang kelak setelahmya semakin ramai dan menjadi Kota Tanjungbalai. Hingga awal abad ke-19, Kesultanan Asahan pun menjadi bagian dari Kesultanan Aceh," ungkapnya.

Dari sisi geografi, demografi, hingga sektor unggulan, kedua kota juga memiliki kemiripan. "Luas kota kita hampir sama, yakni 60 kilometer persegi. Perdagangan pun menjadi sektor unggulan Tanjungbalai, di samping pariwisata dengan destinasi favorit seperti kuliner, religi, dan air," ungkapnya lagi.

Saat ini, kata Waris, pihaknya bersama legislatif tengah menyusun RPJMD 2021-2026, sebagai pedoman pembangunan kota ke depan. "Kami sangat tertarik dengan pencapaian Banda Aceh. Izin Pak Wali untuk mengadopsi beragam ilmu dan prestasinya. Semoga kami bisa contoh dan terapkan di kota kami. Jika tidak 100 persen, minimal bisa 75 persen," sebutnya. (Red)